Senin, 28 Maret 2016

Berani Tampil Beda


Roma 12:1-2
….supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa oleh dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna
     Berani Tampil Beda! Itulah yang menjadi thema renungan kita kali ini. Tentu kita bertanya-tanya ‘berani tampil beda? Untuk apa kita tampil beda?’
     Jika kita perhatikan sekeliling kita, ada orang yang ingin tampil beda, supaya dapat menarik perhatian orang banyak. Ada pula orang yang ingin tampil beda karna tidak ingin seorang pun menyamai atau menandinginya. Dan ada pula yang ingin tampil beda karena dengan cara itu, ia ingin membuktikan bahwa dia mampu melakukan atau memiliki apa yang tidak sanggup dilakukan atau dimiliki orang lain.
     Berani tampil beda yang kita maksudkan di sini, bukanlah berani tampil beda yang seperti itu. Karena tampil beda yang dilandasi oleh motivasi ingin diperhatikan orang banyak, tidak ingin disamai siapa pun, membuktikan kemampuan diri, dan mungkin masih banyak alasan lainnya, semuanya itu dilandasi oleh akar dosa yang sama, yaitu dosa kesombongan.

     Tuhan ingin kita ini berani tampil beda, bukan untuk sebuah kesombongan, melainkan Tuhan ingin kita berpikir dengan cara pikir Tuhan, walaupun cara pikir ilahi seperti ini sama sekali berbeda dengan cara pikir yang dianut oleh dunia. Hal inilah yang menuntut sebuah roh keberanian. Beranikah kita ikut cara berpikir Tuhan, walaupun untuk itu kita harus tampil beda dari orang-orang di sekeliling kita ?
     Ingat , janganlah kamu menjadi serupa oleh dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu!

      Mengikuti pola pikir Allah, itu berarti berani hidup (untuk berani mati itu mudah, tetapi untuk berani hidup itu lebih sulit) dengan cara pikir ilahi, tidak mengikuti pola pikir duniawi. Cara ini memampukan kita untuk dapat membedakan beberapa tingkatan kehendak Allah
• Baik di mata Allah
• berkenan kepada Allah
• Semrna di hati Allah
     Contoh kecil saja, prinsip ekonomi dunia berkata bahwa ‘dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya’ Prinsip ini sangat berbeda sekali dengan prinsip ekonomi Alkibiah yang berkata bahwa ‘Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga’ II Kor 9:6
     Susan, seorang anak muda yang duduk di bangku SMA, sungguh-sungguh berani tampil beda. Susan tidak mau mencontek. Seluruh teman-teman sekelasnya menganggap Susan gila, Kristen sok suci dan aneh. Tapi Susan tidak peduli. Benar saja, nilai Susan ‘apa adanya’, atau lebih tepatnya ‘adanya apa?’ karena nilai-nilai itu memang murni hasil belajar Susan. Pada saat pengumuman kelulusan, semua teman-teman heran, demikian juga dengan guru-guru, heran karena nilai ebtanas murni Susan, jauh di atas nilai hariannya. Sementara itu teman-teman yang tergolong nilainya hariannya bagus-bagus (karna hasil contekan), nilai ebtanas murninya kurang bagus. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Karna Susan membangun ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh belajar dari ulangan yang satu ke ulangan lainnya, bukan mengejar nilai bagus dengan cara instant/mencontek.
     Beranikah kita para pelajar, para pekerja, punya warna lain ditengah-tengah angkatan yang jahat ini?
     Ketika pertama kali ingin membeli sepeda di sebuah kota yang baru, keluarga Widi, agak bingung menentukan toko mana yang tepat sebagai pilihan. Setelah berkonsultasi pada beberapa orang penduduk asli kota itu, akhirnya Keluarga Widi menentukan satu toko sepeda yang sangat terkenal di kota itu. Apakah Saudara ingin tahu apa komentar orang tentang toko sepeda yang special itu? Semua orang berkomentar ‘Beli di toko yang itu saja , Pak! Pemilik toko itu jujur, dia akan mengatakan yang sebenarnya apakah sebuah sepeda itu asli atau tiruan, dia tidak pernah menipu pembelinya. Tidak seperti toko-toko sepeda lainnya’
     Pemilik toko sepeda ini, berani tampil beda, tidak sama dengan semua toko sepeda lainnya. Dia berani jujur ditengah-tengah angkatan yang tidak jujur.
     Daniel berani tampil beda, dia mau memakai cara pikir Allah,bukan cara pikir dunia. Lewat ketaatannya untuk tidak memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala, namun hanya memakan sayur-sayuran saja, dia didapati sepuluh kali lebih cerdas dibandingkan dengan orang-orang disekitarnya.
     Yusuf berani tampil beda, dia memilih terali besi daripada bujuk rayu Tante Poti. Secara cara pikir manusia, tentulah langkah kaki Yusuf dari rumah Potifar, sudah sangat mendekati pintu istana Firaun. Akan tetapi tanpa disadarinya, setelah melangkahkan kaki dari pintu penjara akhirnya langkahnya berujung di pintu istana Firaun.
     Ayo, para Profesional Muda! Jangan takut untuk tampil beda. Tuhan tidak memberi kita roh ketakutan, melainkan roh keberanian. (II Tim 1:7)
     Berdoalah, ditengah-tengah lingkungan yang tidak mengenal kuasa doa. Cintailah Firman Tuhan, ditengah-tengah orang-orang yang menganggap Alkitab itu buku kuno. Ikutlah melayani Tuhan, ditengah-tengah orang-orang yang berkata ‘aku malu’, ‘aku tidak punya waktu’ Jujurlah di tempat kerja, di tengah-tengah orang-orang yang pandai mencari-cari keuntungan haram dan menganggap itu semua ‘biasa’. Katakan ‘tidak’ tanpa harus merasa bersalah, jika memang harus berkata ‘Tidak!’
     Akhir kata…..rekan-rekan professional muda, selamat tampil beda!
zwani.com myspace graphic comments

Minggu, 06 Maret 2016

MAU MINTA APA?

1 Raja-raja 3:5-14


Jika ada lampu ajaib yang dapat mengabulkan tiga permintaan, apa yang akan Anda minta? Mungkin Anda sulit memilih sebab banyak sekali yang diinginkan. Untuk memudahkan, coba kita ingat-ingat apa yang selalu Anda minta dalam doa. Umumnya orang meminta kesehatan, berkat (baca: harta), dan perlindungan. Pernahkah Anda memikirkan untuk apa kesehatan, berkat, dan perlindungan yang Anda minta itu? Apa yang akan Anda lakukan dengannya?

Ketika Raja Salomo mendapat kesempatan untuk meminta apa yang ia inginkan, ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, atau nyawa musuh, tetapi ia meminta pengertian untuk memutuskan perkara hukum. Salomo tidak meminta kenyamanan atau kemudahan, tetapi ia meminta hikmat sebagai bekal agar ia dapat melakukan tugasnya dengan baik. Pilihan Salomo itu tepat sebab Allah sendiri memandang permintaan itu baik. Allah mengabulkan, bahkan memberikan juga apa yang tidak dimintanya, yaitu kekayaan dan kemuliaan.

Youth, kesehatan, berkat, dan perlindungan sudah kita dapatkan. Namun, tanpa hikmat dari Tuhan, kita akan selalu merasa kurang, selalu merasa terancam, selalu hidup di dalam kekhawatiran. Hikmat Tuhanlah yang paling kita butuhkan. Dengan hikmat dari Tuhan itu, kita akan mampu untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Kita juga akan mampu untuk melihat penyertaan Tuhan dalam hidup kita setiap hari. Dengan demikian, kita tidak akan lagi merasa khawatir akan hari esok. Kita juga tidak akan khawatir untuk memasuki tahun yang baru sebab kita tahu bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita. Senantiasa berdoa dan merenungkan firman Tuhan, maka hikmat-Nya akan menyertai kita.